background

Blog

DENPASAR – Tidak hanya belajar di dalam ruang kuliah dan membaca buku di perpustakaan untuk memahami pertanian, demikian disampaikan Rektor Dwijendra University, Dr. Gede Sedana, M.Sc. di hadapan puluhan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dwijendra University di sela-sela acara panen tanaman sayuran, Kamis (14/11/2019).

Gede Sedana yang didampingi Dekan fakultas Pertanian, Ir. Ni Ketut Karyati, MP., terus berupaya mengajak seluruh mahasiswa sebagai generasi milenial untuk semakin mencintai dunia pertanian.

“Mereka sejak awal memasuki perguruan tinggi di Dwijendra University telah diperkenalkan kebun pertanian atau roof garden yang lokasinya ada di Lantai 5 Yayasan dwijendra,” sebut Gede Sedana.

Pada kesempatan ini ia mengajak Mahasiswa Fakultas Pertanian untuk bertani yang prospektif yaitu mengusahakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan berumur pendek. Mereka yang memilih Program Studi Agribisnis dan Program Studi Agroteknologi, konsentrasi Arsitektur Pertanaman ternyata memiliki minat dan interes yang tinggi untuk berusahatani. Para dosen dibawah koordinasi Dekan dan Kaprodi senantiasa mengajak seluruh mahasiswa untuk menekuni kegiatan pertanian, seperti tanaman buah dalam pot, hidroponik, dan teknik pertanian lainnya. Selain untuk melakukan kegiatan bertani, lantai 5 Gedung Yayasan Dwijendra juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa.

Lantas beberapa mata kuliah yang ditawarkan setiap semester selalu diarahkan agar mahasiswa melakukan praktek lapangan, sehingga mereka langsung dapat menerapkan teori-teori yang diberikan oleh para dosen.

“Bahkan mahasiswa telah diajarkan untuk membuat instalasi hidroponik dan media tanam lainnya hingga benar-benar mampu untuk membuatnya sendiri. Kemampuan kognitif dan afektif mahasiswa telah ditanamkan sejak dini pada Dwijendra University, khususnya pada Falkultas Pertanian,” bebernya.

Rektor Dwijendra University menekankan kepada para mahasiswa, bertani itu bukanlah kegiatan yang tidak menguntungkan secara ekonomis. Pertanian tidak lagi merupakan pekerjaan yang kotor dan bahkan sangat melelahkan. Bahkan Gede Sedana menambahkan bahwa pertanian yang harus dikembangkan dengan menerapkan prinsip ekonomis dan mengarah pada agribisnis adalah urban farming.

“Urban farming adalah konsep mentransfer sistem pertanian konvensional ke sistem pertanian perkotaan yang memiliki perbedaan pada aspek pelaku dan media tanamnya,” imbuhnya.

Dijelaskan Gede Sedana, pada sistem pertanian konvensional, aktivitas pelaku lebih berorientasi pada hasil produksi. Sementara itu, sistem urban farming lebih menonjol pada karakter pelakunya, yaitu masyarakat perkotaan. Melalui Urban Farming, mahasiswa dapat semakin mengenali kegiatan pertanian yang dapat memberikan keuntungan ekonomis karena produknya memiliki pasar yang muda disertai dengan harga yang relatif tinggi, imbuhnya. Oleh karena itu, rektor mengajak seluruh mahasiswa untuk membangun image bahwa kita harus bangga menjadi petani. Jadilah generasi milenial yang mampu berusahatni secara komersial dan professional di dalam menuju era Society 5.0. (red)