background

Blog

DENPASAR – Setelah menggelar puncak karya di Pura Mahawidya Dwijasrama Dwijendra, Jumat Wage (15/11/2019) dilanjutkan dengan proses Penganyar, Nyenuk dan Penyineban. Civitas akademika Dwijendra University juga turut ambil bagian dalam prosesi Nyenuk ini.

Pelaksanaan Nyenuk mengandung makna madelokan atau masimakrama, sebagai simbol kedatangan para dewata yang turun dari kahyangan untuk memberikan anugerah kepada seluruh warga Dwijendra. Prosesi ini diawali dari gerbang “pemelang” Yayasan Dwijendra, menuju ke halaman dalam Yayasan Dwijendra.

Segenap Civitas Dwijendra University yang mendapat bagian mengenakan pakaian serba kuning, berjalan beriringan dengan memikul tebu dilengkapi pale bungkah pale gantung palerambat (hasil bumi) sebagai wujud persembahan kepada para dewata, dan iring-iringan sakral ini dipimpin oleh Rektor Dwijendra University Dr Gede Sedana, M.Sc., pada barisan paling depan, diikuti Wakil Rektor, dosen serta pegawai yang juga meramaikan. Peserta nyenuk berjalan beriringan dengan suasana penuh suka cita diiringi dengan dengan tari-tarian.

“Upacara ini mengandung makna nilai luhur agar umat Hindu selalu memperkuat persatuan,” ujar Rektor Gede Sedana disela kegiatan.

Suksesnya partisipasi acara Nyenuk di Dwijendra University, tak lepas dari intensifnya koordinasi dari tingkat pimpinan hingga tingkat pegawai. Koordinasi dilakukan setiap saat demi kelancaran acara. Di bawah komando dari Wakil Rektor II, Drs. I Made Sila, M.Pd., antusiasme peserta mengikuti acara ini juga terlihat dari kehadiran dosen-dosen pada ritual ini yang mengikuti jalannya acara dari awal hingga akhir.

“Teriknya matahari tak menjadi halangan bagi peserta Nyenuk, terutama para dosen muda yang baru pertama kali mengikuti ritual seperti ini di Dwijendra,” sebut Rektor Gede Sedana.

Rangkaian upacara dipuput oleh dua Sulinggih ini berakhir sekitar pukul 14.30 Wita, ditutup dengan mundut Ida Batara dan di”linggihkan” kembali pada pelinggihan ditempat/unit masing-masing. (tan)